Most Recent Written

Ibu Meninggal Usai Melahirkan, Bayi Disandera Rumah Sakit di Depok karena Keluarga Tak Punya Uang



Karena ketiadaan uang untuk membayar biaya persalinan, seorang bayi laki-laki yang baru dilahirkan oleh Leni Marlina (43) dengan operasi caesar pada Selasa (2/2/2018) lalu, disandera pihak RSIA Bunda Aliyah.

Pihak rumah sakit yang berlokasi di Jalan Kartini, Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, meminta biaya perawatan dan persalinan yang dijalani Leni Marlina sebesar Rp 13 Juta ke pihak keluarga, jika pihak keluarga ingin mengambil sang bayi.

Leni Marlina meninggal dunia usai menjalani operasi caesar pada Selasa lalu itu, sedangkan bayinya selamat. Jenazah Leni sudah dimakamkan pihak keluarga di TPU Citayam, Rabu (3/2/2018) pagi.

Namun sampai Kamis (4/2/2018), bayi Leni masih ditahan pihak rumah sakit dan tidak bisa diambil pihak keluarga, sebelum menebus uang perawatan dan persalinan Leni. Hal itu diungkapkan Lilis (24), anak pertama Leni, kepada Warta Kota, Kamis (4/2/2018).

"Uang Rp 13 Juta yang diminta pihak rumah sakit itu, belum termasuk biaya perawatan bayi yang dilahirkan ibu kami. Kami tidak bisa mengambil bayi jika kami belum membayar sedikitnya Rp 13 Juta ke pihak rumah sakit," ungkap Lilis.


Ia menjelaskan, bayi yang kini masih ditahan pihak RSIA Bunda Aliyah dan dirawat di ruang NICU-PICU itu, adalah anak kedelapan dari pasangan Leni Marlina dan Janik (44).

Leni dan Janik tercatat sebagai warga Beji, Depok, namun berdomisili di Kampung Kelapa, Citayam, Bojonggede, Bogor.

"Ayah saya hanya seorang buruh harian lepas dan bekerja serabutan, sehingga tidak punya uang sebanyak itu seperti yang diminta rumah sakit. Apalagi kami masih berduka, karena ibu kami meninggal dunia di rumah sakit, saat melahirkan adik kami Selasa lalu," tutur Lilis.

Bahkan, kata Lilis, sejak ibunya melahirkan sang bayi, pihak rumah sakit tidak memperkenankan keluarga melihat kondisi sang bayi.

"Kami tidak boleh melihat kondisi bayi oleh pihak rumah sakit tanpa alasan yang jelas," kata Lilis.

Karenanya, sambung Lilis, pihaknya hanya menerima informasi saja soal bayi yang dilahirkan ibunya, dari pihak rumah sakit.

"Menurut informasi pihak rumah sakit, bayi yang dilahirkan ibu saya berjenis kelamin laki-laki dengan tinggi badan 51 cm serta kondisinya sehat. Tapi kami tidak boleh melihat kondisi bayi sampai sekarang. Bayi masih dirawat di ruang NICU-PICU," beber Lilis.

Lilis mengatakan, ibunya tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan saat pertama kali masuk ke RSIA Bunda Aliyah di Jalan Kartini, Depok. Hal ini katanya sudah diinformasikan ke pihak rumah sakit sejak awal.

Karenanya, pihak rumah sakit membuat surat perjanjian dengan pihak keluarga yang ditandatangani Janik, bahwa keluarga mesti mengurus kartu BPJS Kesehatan dalam waktu 3x24 jam, jika ingin bebas biaya.

"Kalau selama tiga hari BPJS-nya tidak selesai, maka kami harus bayar semua biayanya. Sampai sekarang pengurusan BPJS ibu saya masih terkendala, dan ini hari terakhir," terang Lilis.

Lilis berharap ada kebijakan dari pihak rumah sakit untuk meringankan biaya persalinan ibunya dan perawatan bayi, yang merupakan adiknya itu.

"Kami pihak keluarga sekarang mencoba bernegosiasi dengan pihak rumah sakit untuk hal itu, dan berharap bisa membawa bayi yang dilahirkan ibu kami," cetus Lilis.

Menurutnya, saat ini keluarga didampingi oleh komunitas wartawan Depok yang tergabung dalam Mitra Pers Depok (MPD), bernegosiasi dengan pihak rumah sakit agar keluarga bisa mengambil sang bayi.

"Kami masih menunggu di ruang tunggu rumah sakit, sama teman-teman dari MPD," imbuh Lilis.

Berita  ini diambil dari wartakota.tribunnews.com .. Klik link ini untuk melihat berita asli